Senin, 04 Januari 2010

MIT Sloan, Vespa dan Pendidikan





Sobat pasti pernah mendengar MIT Sloan....... MIT Sloan adalah salah satu dari top 5 School yang ada di MIT (Massachusetts Institute of Technology) yang berlokasi di Cambridge Massachusetts, United State. MIT sendiri merupakan salah satu top university di dunia dengan high tech facilities, perpustakaan yang sangat lengkap dan juga profesor2 dengan reputasi internasional. MIT Sloan juga terkenal dengan salah satu program MBA termahal di dunia. Kampus ini juga telah banyak melahirkan CEO2 di perusahaan raksasa baik di United State sendiri maupun di negara lain di dunia.


more about MIT Sloan: http://mitsloan.mit.edu/


Mungkin sobat bertanya, kenapa tiba2 saya menulis tentang MIT Sloan. Begini ceritanya, saat ini saya bersama beberapa orang teman MBA SGU (Agung Pratama, frety, Indah dan Anggi) tengah berkolaborasi dengan 4 orang mahasiswa MBA MIT Sloan dalam sebuah research. Research itu seputar "Brand association focus group" dan "The potential customer survey" untuk produk Vespa keluaran Piaggio. Brand association dalam bahasa yang lebih bersahabat adalah bagaimana persepsi masyarakat terhadap brand Vespa di Indonesia, karena pada zaman dulu kala Vespa sempat sangat digemari di tanah Air, sampe2 pemerintah memberikan hadiah ke 100 prajurit TNI yang kembali dari tugas kemanusian PBB di Congo. Dari saat itu, jenis Vespa yang dihadiahkan kepada prajurit TNI tersebut terkenal dengan nama Vespa Congo. Karena sejarah vespa yang pernah gemilang, Piaggio ingin kembali membangkitkan brand Vespa di Indonesia melalui tangan2 mahasiswa MIT tersebut. Tentu saja yang mengenal masyarakat Indonesia adalah orang indonesia sendiri, maka dari itu mereka memerlukan bantuan kita.






Jika sobat ingin lebih lanjut secara detail tentang Vespa di Tanah Air bisa check disini : http://vespa-indonesia.com/spartan/



Terjadilah pertemuan dengan ke 4 orang mahasiswa MIT itu di Urban Kicthen Senayan City pada hari Senin tanggal 4 Januari 2010, jam 6 malam. Kebetulan sayalah orang pertama yang tiba di UB kitchen. Ke 4 Mahasiswa MBA MIT tersebut adalah Fan Jin (mahasiswa keturunan Cina), Yoshiuki Hamaoka (mahasiswa keturunan jepang), Mark Paul Chew (American citizen keturun Asia) dan Susana Ortega-Valle (Spanish). Bagi Fan Jin, Mark dan Susana adalah perlajanan mereka pertama ke Indonesian sedangkan Yoshi sudah pernah datang ke Bali dalam rangka bulan madu. Pertanyaan pertama (bukan yang pertama sekali sih) yang dilontarkan salah satu dari merela adalah "How you guys can speak English very well?".... Helloooooo ....ya saya jawab rata2 orang Indonesia memang lancar berbahasa Inggris... dari pertanyaan itu dapat disimpulkan bahwa mereka meng underestimate kemampuan bahasa inggris orang Indonesia (dasar bule..)....




Setelah makan malam (bayar sendiri-sendiri, kiraain dibayarin :( ) kita lanjutkan dengan diskusi tentang apa yang sudah kami lakukan di Indonesia dan apa yang akan di lakukan selanjutnya. Kami sebelumnya telah melakukan temu ramah dengan pecinta vespa di indonesia yang tergabung dalam VIO. Dalam temu ramah tersebut kami bertukar pikiran seputar dunia vespa, seperti mengapa mereka sangat mencintai vespa, sejarah vespa di dunia dan indonesia, harapan mereka tentang kehadiran vespa ditanah air dan masih banyak lagi.




Selanjutnya diskusi dilanjutkan pada next step, yaitu Potential customer survey. Setelah 3 jam meeting ini pun ditutup dengan MOM yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Kalau dilihat-lihat sebenarnya mahasiswa indo nggak kalah pinternya dari mahasiswa2 MIT itu. Tidak bermaksud menyombongkan diri, pola fikir dan kemampuan menganalisa sebuah isu dari global view hingga ke level yang details termasuk juga kemampuan untuk menghasil sebuah jawaban atau solusi tidak jauh berbeda dari kita2 (Mahasiswa Indo). Sejak itu kita merasa lebih PD aja kalau berhadapan dengan mahasiswa dari State atau dari Universitas top lainnya di Dunia.




Lalu muncul pertanyaan, mengapa kualitas pendidikan di Indonesia dari hasil survey badan2 International menempatkan kita di posisi yang cukup rendah, malah dibawah Malaysia, Thailand, Singapore bahkan Vietnam yang baru saja merdeka. Mungkin ada beberapa hal dari padangan saya, sobat boleh setuju dan tidak setuju.






  • Peranan pemerintah.....Dukungan permerintah sangat menentukan maju tidaknya pendidikan sebuah negara. Maaf jika harus membandingkan, sebelum pemerintahan sekarang, anggaran belanja negara untuk bidang pendidikan cukup rendah yaitu sekitar 5%(orde baru). Tidak dipungkiri saat ini anggaran belanja negara sudah hampir mencapai 20%. Namun masih Singapore telah menganggarkan belanja 20% sejak lama.


  • Tidak hanya belanja negara, bagaimana dengan system pendidikan itu sendiri? Malaysia sudah sejak lama memberikan loan atau pinjaman kepada warga negara yang tidak mampu untuk belajar di universitas2 dinegara mereka. Pinjaman tersebut dapat dibayar setelah mereka mendapat perkerjaan, dengan angsuran per bulan yang tidak memberatkan. Lalu, bagaimana dengan Indonesia.....


  • Melanjutkan system pendidikan tadi.... maaf saya harus membandingkan lagi. Sejak di bangku sekolah menengah, pelajar2 di negara maju telah dibiasakan untuk menulis. kebanyakan dari tugas rumah mereka adalah dalam bentuk essay atau tulisan ilmiah, tentu saja mereka juga diharapkan untuk menghafal dan memahami konsep2 dasar dari sebuah pelajaran. Mereka juga punya akses yang cukup untuk meminjam berbagai jenis buku di perpustakaan sekolah. Koleksi buku2 yang ada biasanya cukup lengkap. Satu hal lagi yang cukup penting, mereka tidak perlu membeli buku2 mata pelajaran (text book) tersebut karena telah disedikan sekolah dan semua sekolah menggunakan jenis buku yang sama dengan sekolah yang lainnnya. Jika kita lihat di tanah air, di bangku SD saja sudah berbagai jenis buku yang harus dibeli, bisa dibayangkan untuk tingkat sekolah menengah, berapa banyak buku yang harus dibeli tiap tahunnya. Menjadi pertanyaan..bagaimana dengan mereka yang tidak mampu, karena pada kenyataan lebih dari 20% bahkan lebih masih hidup di bawah garis kemiskinan.


  • Satu hal lagi yang membuat mempertanyakan dukungan pemerintah kepada pendidikan adalah, beberapa universitas terbaik di Indonesia sudah pun menjadi badan usaha (jika ada kata2 yang lebih tepat mohon dibenarkan). Hal ini menyebabkan Universitas harus mampu membiayai diri mereka sendiri dan berimbas pada munculnya jalur2 khusus untuk belajar di Universitas terbaik tersebut. Biaya masuk dan kuliah menjadi semakin mahal, akibatnya mereka yang berduit yang mampu menyekolahkan anak2 mereka di Universitas terbaik tersebut. Lalu, bagaiman dengan siswa2 cemerlang dengan otak brilliant tetapi dari keluarga yang jauh dari tingkat sederhana, kemana mereka akan sekolah. Pada akhirnya banyak generasi terbaik bangsa dari kalangan yang tidak berada termaginalisasikan di dalam dunia pendidikan.




Mungkin masih banyak hal2 lain yang memiliki impact terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Bagaimanapun, juga banyak kelebihan2 dalam dunia pendidikan di tanah air. Tetapi untuk maju hendaklah kita membenahi segala kekuarangan yang ada dan terus berkesinambungan berupaya meningkatnya kualitas pendidikan di Tanah Air. Semoga masa depan pendidikan Di Indonesia lebih cerah.....

Jika ada feedback dipersilahkan.................























Tidak ada komentar:

Posting Komentar